Nama : Nurul Aulia
NIM : 11901183
Kelas : PAI 4/E
Mata Kuliah : Magang 1
Dosen Pengampu : Farninda Aditya, M.Pd
Kultur Sekolah, Aktivitas Siswa, dan Pembelajaran
Assalamualaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh..
Pada kesempatan kali ini saya
menyampaikan laporan hasil bacaan saya mengenai kultur sekolah, aktivitas
siswa, dan pembelajaran.
Kultur
sekolah menjadi salah satu daya tarik konsumen untuk menggunakan jasa
pendidikan yang ditawarkan sekolah. Semakin positif kultur sebuah sebuah, maka
konsumen pendidikan akan semakin tertarik kepada sekolah tersebut. Dan yang
terpenting, kultur sekolah merupakan landasan dari tercapainya semua bentuk
prestasi warga sekolah.
Kultur
merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat,
yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam
wujud fisik maupun abstrak. Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan
diwariskan oleh suatu generasi kepada generasi berikutnya. Sekolah merupakan
lembaga utama yang didesain untuk memeperlancar proses transmisi kultural antar
generasi tersebut (Ariefa Efianingrum, 2009: 21).
Sekolah
merupakan sistem sosial yang mempunyai organisasi yang unik dan pola relasi
sosial di antara para anggotanya yang bersifat unik pula. Hal itu disebut
kebudayaan sekolah. Namun, untuk mewujudkannya bukan hanya menjadi tanggung
jawab pihak sekolah. Sekolah dapat bekerjasama dengan pihak-pihak lain, seperti
keluarga dan masyarakat untuk merumuskan pola kultur sekolah yang dapat
menjembatani kepentingan transmisi nilai (Ariefa Efianingrum, 2007: 51).
Kultur
sekolah adalah serangkaian keyakinan, harapan, nilai-nilai, norma, tata aturan,
dan rutinitas kerja yang diinternalisasi warga sekolah sehingga mempengaruhi
hubungan sejawat dan kinerja warga sekolah dalam upaya mencapai tujuan sekolah.
Kultur inilah yang menjadi pembeda antara sekolah satu dengan lainnya.
Pengertian
kultur sekolah beraneka ragam. Deal dan Kennedy (Depdiknas Direktorat
Pendidikan Menengah Umum, 2003: 3) mendefinisikan kultur sekolah sebagai
keyakinan dan nilai-nilai milik bersama yang menjadi pengikat kuat kebersamaan
mereka sebagai warga suatu masyarakat. Jika definisi ini diterapkan di sekolah,
sekolah dapat saja memiliki sejumlah kultur dengan satu kultur dominan dan
sejumlah kultur lainnya sebagai subordinasi. Sejumlah keyakinan dan nilai
disepakati secara luas di sekolah, sejumlah kelompok memiliki kesepakatan
terbatas di kalangan mereka tentang keyakinan dan nilainilai. Keadaan ini tidak
menguntungkan, jika antara nilai-nilai dominan dan nilai-nilai subordinasi itu
tidak sejalan atau bahkan bertentangan dengan membangun suatu masyarakat
sekolah pro belajar atau membangun sekolah yang bermutu.
Stolp
dan Smith (Moerdiyanto, 1995: 78-86) menyatakan bahwa kultur sekolah adalah
suatu pola asumsi dasar hasil invensi, penemuan oleh suatu kelompok tertentu
saat ia belajar mengatasi masalah-masalah yang berhasil baik serta dianggap
valid dan akhirnya diajarkan ke warga baru sebagai cara-cara yang dianggap
benar dalam memandang, memikirkan, dan merasakan masalah-masalah tersebut.
Jadi, kultur sekolah merupakan kreasi bersama yang dapat dipelajari dan teruji
dalam memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi sekolah dalam mencetak
lulusan yang cerdas, terampil, mandiri dan bernurani.
Menurut
Schein (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003 : 3-4), kultur
sekolah adalah suatu pola asumsi dasar hasil invensi, penemuan atau
pengembangan oleh suatu kelompok tertentu saat ia belajar mengatasi
masalah-masalah yang telah berhasil baik serta dianggap valid, dan akhirnya
diajarkan ke warga baru sebagai cara-cara yang benar dalam memandang,
memikirkan, dan merasakan masalahmasalah tersebut. Menurut Zamroni (2005: 15),
kultur atau budaya dapat diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah
yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai tertentu yang dianut
sekolah. Misalnya, sekolah memiliki spirit dan nilai disiplin diri, tanggung
jawab, kebersamaan, keterbukaan, kejujuran, dan semangat hidup. Spirit dan
nilai tersebut mewarnai pembuatan struktur organisasi sekolah, penyusunan
deskripsi tugas, sistem dan prosedur kerja sekolah, dan tata tertib sekolah,
hubungan vertikal dan horizontal antar warga sekolah, acara-acara ritual,
seremonial sekolah, yang secara keseluruhan dan cepat atau lambat akan
membentuk realitas kehidupan psikologis sekolah, yang selanjutnya akan
membentuk perilaku perorangan maupun kelompok warga sekolah.
Jadi kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas internal-latar, lingkungan, suasana, rasa, sifat dan iklim yang dirasakan oleh seluruh orang. Kultur sekolah merupakan kultur organisasi dalam konteks persekolahan, sehingga kultur sekolah kurang lebih sama dengan kultur organisasi pendidikan. Kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai-nilai sebuah sekolah. Biasanya kultur sekolah ditampilkan dalam bentuk bagaimana kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya bekerja, belajar dan berhubungan satu sama lainnya sehingga menjadi tradisi sekolah.
Sekolah
yang memiliki kultur disiplin, bersih, tertib, dan teratur pastilah dipandu
oleh seorang manager yang memiliki keberanian dan kedisiplinan tinggi serta
sangat perhatian terhadap detail-detail kebersihan dan ketertiban lingkungan
sekolah. Sebaliknya, sekolah yang semrawut, dimana warganya, guru dan siswanya,
tidak memiliki komitmen terhadap kedisiplinan dan ketertiban sekolah, dapat
dipastikan kepala sekolahnya adalah sosok yang tidak bermutu dan tidak
berwibawa karena dirinya sendiri tidak memiliki komitmen terhadap kultur
positif sekolah atau tidak mampu berdiri kokoh sebagai teladan.
Budaya
sekolah dipandang sebagai eksistensi suatu sekolah yang terbentuk dari hasil
mempengaruhi antara tiga faktor, yaitu sikap dan kepercayaan, norma-norma, dan
hubungan antara individu sekolah (Aan Komariah, 2006 : 121).
Bagi
sekolah dalam membangun disiplin di sekolah sampai saat ini masih menjadi
problem utama. Kesulitan sekolah untuk membangun budaya disiplin menjadi
program pokok yang terus menerus diupayakan oleh sekolah. Bagi sekolah, bahkan
pekerjaan mendisiplinkan masih menjadi tugas keseharian yang harus dilakukan
oleh pihak sekolah. Kesulitan menanamkan disiplin belajar, karena sekolah belum
berhasil untuk menanamkan kesadaran akan pentingnya belajar. Pihak sekolah
masih terus belajar untuk menanamkan “senang belajar”, karena sampai saat ini
masih banyak siswa yang tidak disiplin, terlambat datang ke sekolah, tidak
tertib mengerjakan tugas, tidak belajar.
Kultur
sekolah diharapkan memperbaiki mutu sekolah, kinerja di sekolah dan mutu
kehidupan yang diharapkan memiliki ciri sehat, dinamis atau aktif, positif, dan
profesional. Sekolah perlu memperkecil ciri tanpa kultur anarkhis, negatif,
beracun, bias dan dominatif. Kultur sekolah sehat memberikan peluang sekolah
dan warga sekolah berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik,
penuh vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan akan mampu terus berkembang.
Sifat
dinamika kultur sekolah tidak hanya diakibatkan oleh dampak keterkaitan kultur
sekolah dengan kultur sekitarnya, melainkan juga antar lapisan-lapisan kultur
tersebut. Perubahan-perubahan pola perilaku dapat secara proses mengubah sistem
nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun
ini sangat sukar. Dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan
jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan yang positif
(Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 6-7).
Menurut
Jumadi (2006: 6) Keberhasilan pengembangan kultur sekolah dapat dilihat dari
tanda-tanda atau indikator sesuai fokus yang dikembangkan. Beberapa indikator
yang dapat dilihat antara lain : adanya rasa kebersamaan dan hubungan yang
sinergis diantara warga sekolah, berkurangnya pelanggaran disiplin, adanya
motivasi untuk berprestasi, adanya semangat dan kegairahan dalam menjalankan
tugas, dan sebagainya.
Kultur
sekolah bersifat dinamis. Perubahan pola perilaku dapat mengubah sistem nilai
dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini
sangat sulit. Namun yang jelas dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan
konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan
positif. Kultur sekolah itu milik kolektif dan merupakan perjalanan sejarah
sekolah, produk dari berbagai kekuatan yang masuk ke sekolah. Sekolah perlu
menyadari secara serius mengenai keberadaan aneka kultur subordinasi yang ada seperti
kultur sehat dan tidak sehat, kultur kuat dan lemah, kultur positif dan
negatif, kultur kacau dan stabil dan konsekuensinya terhadap perbaikan sekolah.
Mengingat pentingnya sistem nilai yang diinginkan untuk perbaikan sekolah, maka
langkahlangkah kegiatan yang jelas perlu disusun untuk membentuk kultur sekolah
(Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 7)
Jadi
dalam hal ini dinamika kultur sekolah adalah budaya dalam kehidupan sekolah
yang berjalan secara terus menerus yang dapat merubah pola perilaku. Dinamika
kultur juga dapat menhadirkan konflik, namun dalam hal ini jika sekolah dapat
menangani secara bijak konflik tersebut dapat menajadi perubahan yang positif.
Kultur
sekolah harus dibangun di atas landasan ilmu dan pemahaman yang memadai.
Mengapa sekolah ini harus menerapkan kedisiplinan dalam berbagai hal, misalnya,
harus dipahami oleh semua warga sekolah. Oleh karena itu tahapan sosialisasi
menjadi langkah awal penanaman kultur, khususnya kepada warga baru, guru atau
siswa baru. Melalui tahapan sosialisasi, warga sekolah mengawali proses
internalisasi nilai-nilai dan norma yang dianut sekolah .
Tahapan
berikutnya adalah pemantapan melalui serangkaian kegiatan pembiasaan dengan
keteladanan piramid. Kepala sekolah menjadi tokoh utama keteladanan diikuti
guru dan karyawan sedangkan peserta didik menjadi followers yang menyerap
nilai-nilai positif dari perilaku para pemimpinnya.
Endingnya,
kultur sekolah yang kuat membentuk wajah unik sekolah. Ketika masyarakat
menyebut Sekolah A, maka sudah terbayang gambaran isi positif dari sekolah A
tersebut. Sebaliknya, sekolah yang kulturnya lemah, maka wajah
"semrawut"lah yang terbayang di benak masyarakat.
TUJUAN
DAN FUNGSI KULTUR SEKOLAH
Untuk
membina mental dan moral, Untuk penuntun kebijakan sekolah terhadap semua unsur
dan komponen sekolah termasuk stakeholders pendidikan, Untuk menciptakan
sekolah yang ideal, Meningkatkan mutu sekolah termasuk kualitas sumber daya
yang dimiliki sekolah, Membantu warga sekolah memahami persekitaran sekolah dan
membantu warga sekolah membina identitas mereka sendiri
MANFAAT
PENGEMBANGAN KULTUR SEKOLAH
1.
Menjamin kualitas kerja yang lebih baik.
2.
Membuka seluruh jaringan dan komunikasi dari segala jenis dan level.
3.
Lebih terbuka dan transparan.
4.
Menciptakan kebersamaan dan rasa saling memiliki yang tinggi.
5.
Meningkatkan rasa solidaritas dan rasa kekeluargaan.
6.
Jika menemukan kesalahan akan segera dapat diperbaiki.
7.
Dapat beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan IPTEK.
8.
Cepat menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi di luar
Aktivitas
dalam pembelajaran yaitu segala bentuk kegiatan siswa dalam mengikuti
pelajaran. Aktivitas dalam pembelajaran memiliki lima dimensi yaitu interaksi
siswa terhadap materi pelajaran yang diajarkan, interaksi siswa dengan siswa
yang lain, interaksi siswa dengan guru, interaksi siswa dalam kelompok, dan
interaksi siswa antar kelompok. Menurut Leont'ev (2008), teori aktivitas
menyatakan bahwa ketika individu melibatkan dan saling berhubungan dengan
lingkungan mereka, sehingga menimbulkan suatu alat. Alat ini ada pada
masing-masing individu dalam bentuk proses mental. Proses mental ini diwujudkan
dalam bentuk sikap yang akan digunakan, sehingga mereka menjadi lebih siap
untuk berinteraksi dengan orang lain baik menerima maupun memberikan respon ke
orang lain.
Referensi
:
PDF Dinamika Kultur Sekolah dalam Meningkatkan
Kualitas Sekolah https://eprints.uny.ac.id
https://arifin.gurusiana.id/article/2017/3/kultur-sekolah-375882?bima_access_status=not-logged
https://www.slideshare.net/renywidiasari/kultur-sekolah-33456442
Tidak ada komentar:
Posting Komentar